Selasa, 20 Desember 2011

Like or dislike culture

Like or dislike


Gak tau mau ngomong apa lagi...... budaya like or dislike begitu kental disini....... entah ini kondisi yang ada saat ini atau memang ini 'budaya' perusahaan. Biasanya ketika seseorang masuk kedunia kerja yang baru untuk pertama kali, orang tersebut akan belajar mengenai budaya perusahaan, situasi pekerjaan, sifat-sifat rekan kerja dan juga atasan dan biasanya kita belajar semua itu dari seseorang yang lebih senior dari kita, yang telah terlebih dahulu masuk dan bekerja pada perusahaan tersebut.

Budaya perusahaan bisa dipahami sebagai seperangkat asumsi yang dibangun dan dianut bersama oleh organisasi sebagai modal dalam beradaptasi dengan lingkungan eksternal dan proses integrasi internal. Seperangkat asumsi disini adalah hal-hal seperti filosofi, nilai-nilai, norma-norma, keyakinan, ide mitos dan karya yang terintegrasi untuk mengarahkan perilaku organisasional. Seperangkat asumsi ini adalah isi dari budaya perusahaan yang berkaitan dengan apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh semua karyawan. Isi budaya adalah moral yaitu watak organisasi yang mengutamakan nilai-nilai kebaikan yang harus diterima dan disepakati untuk menjadi roh kehidupan organisasi.
Budaya perusahaan memang didapat dari apa yang kita rasakan selama kita bekerja, namun ketika yang menjadi dasar kita bekerja adalah like or dislike apakah ini budaya perusahaan yang baik???
Ini adalah sebuah perusahaan besar yang masih dalam tahap transformasi dari sesuatu menjadi sesuatu yang baru. Namun ketika like or dislike tetap dijadikan dasar dalam budaya perusahaan tampaknya proses transformasi yang sedang terjadi ini tidak akan mengubah banyak hal. Setiap individu akan tetap bekerja dengan dasar like or dislike, ketika dia bekerja dengan orang yang dia sukai maka suasana kerja akan menjadi lebih baik dan lebih hidup sehingga bisa meningkatkan motivasi dari setiap pekerja yang ada dalam satu unit tertentu.Namun ketika seseorang bekerja dengan orang yang tidak disukainya maka yang terjadi adalah suasana kerja tidak akan pernah kondusif, pergunjingan dibelakang orang yang tidak disukai menjadi hal yang lumrah atau wajar. Bagaimana orang baru seperti saya akan teredukasi ketika apa yang yang saya lihat dan apa yang saya rasakan hanya didasarkan pada like or dislike.
Secara prinsip saya tidak begitu terganggu dengan like or dislike yang sudah dilakukan oleh orang-orang yang lebih dulu masuk ke perusahaan ini. Selama saya masih bisa bekerja dan memberikan yang terbaik, saya tidak peduli dengan apapun yang mereka lakukan. Mereka mau nenggunjingkah atau menjelek-jelekkankah bukan urusan saya. Tapi saya masih berharap like or dislike jangan terus dijadikan pedoman dalam bekerja terlebih lagi dalam sebuah unit organisasi, karena kita semua bekerja dalam satu tim yang harus solid dan memberikan performance yang terbaik yang kita miliki.
Mau bagaimanapun juga like or dislike bukan merupakan sebuah budaya perusahaan yang perlu dilestarikan. Karena like or dislike bukan merupakan budaya perusahaan melainkan perilaku individu yang ada dalam perusahaan tersebut. Perilaku individu yang harus dibenahi agar tidak mempengaruhi performance perusahaan.
Peran seorang pemimpin sangat penting untuk menghilangkan faktor like or dislike ini. Pemimpin harus bisa menghilangkan hal ini dan juga menumbuhkan budaya perusahaan yang lebih baik lagi. Pemimpin disini bukan hanya pemimpin unit organisasi namun adalah pemimpin perusahaan. Hal ini dikarenakan pembentukan budaya perusahaan bisa Top Down, yang artinya pembentukan budaya perusahaan dimulai dari atas dan diturunkan kebawah dengan adanya kebijakan. Bagaimanapun juga budaya perusahaan seharusnya bisa meningkatkan kinerja dari setiap individu yang ada di dalam perusahaan tersebut dan juga bisa lebih memotivasi setiap individu tersebut.

Jumat, 19 Agustus 2011

birokrasi oh birokrasi...............


JUL
Siapa yang kenal birokrasi indonesia???? Sistem yang terkenal dengan ‘mbuletisasinya’, jalur yang panjang, banyak meja yang dilalui, dan ujung ujungnya duit (UUD). Kalo orang yang ga punya duit jadi sebisa mungkin menghindari yang namanya birokrasi, jangan sampe deh bersentuhan dengan yang namanya birokrasi.
birokrasi
Birokrasi berasal dari bahasa perancis ‘bureau’ yang berarti kantor. Konsep birokrasi sendiri dimaksudkan untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip organisasi yang tepat untuk meningkatkan efisiensi administrasi organisasi. Menurut Weber, birokrasi dan institusi lainnya dapat dilihat sebagai sebuah ‘kehidupan kerja yang rutin’. Rutinitas kerja yang tercermin dalam sistem administrasinya disamakan dengan mesin pada proses produksi dalam dunia manufaktur. Birokrasi menurut Weber adalah salah satu rasionalitas yang tertentu (defining rationalities). Pemikiran Weber didorong keinginannya menciptakan organisasi modern yang bisa digunakan pemerintah menjalankan modernisasi dan pembangunan.Terdapat beberapa karakteristik rasional dalam birokrasi, menurut weber karakteristik tersebut diantaranya:
  1. Individu pejabat secara personal bebas, akan tetapi dibatasi oleh jabatannya manakala ia menjalankan tugas-tugas atau kepentingan individu dalam jabatannya. Pejabat tidak bebas menggunakan jabatannya untuk keperluan dan kepentingan pribadinya termasuk keluarganya.
  2. Jabatan-jabatan itu disusun dalam tingkatan hirarki dari atas ke bawah dan ke samping. Konsekuensinya ada jabatan atasan dan bawahan. Ada yang menyandang kekuasaan lebih besar dan ada yang lebih kecil.
  3. Tugas dan fungsi masing-masing jabatan dalam hirarki itu secara spesifik berbeda satu dengan lainnya.
  4. Setiap pejabat mempunyai kontrak jabatan yang harus dijalankan. Uraian tugas masing-masing pejabat merupakan domain yang menjadi wewenang dan tanggung jawab yang harus dijalankan sesuai kontrak.
  5. Setiap pejabat diseleksi atas dasar kualifikasi profesionalitasnya, idealnya melalui ujian kompetitif.
  6. Setiap pejabat mempunyai gaji termasuk termasuk hak untuk menerima pensiun sesuai dengan tingkatan hirarki jabatan yang disandangnya. Setiap pejabat bisa memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan jabatannya sesuai dengan keinginannya dan kontraknya bisa diakhiri dalam keadaan tertentu.
  7. Terdapat struktur pengembangan karir yang jelas dengan promosi berdasarkan senioritas dan penilaian obyekif (merit sistem).
  8. Setiap pejabat tidak dibenarkan menjalankan jabatannya dan sumber daya instansinya untuk kepentingan pribadi dan keluarga.
  9. Setiap pejabat berada di bawah pengendalian dan pengawasan suatu sistem yang dijalankan secara disiplin.
Selain karakteristik positif tersebut diatas, Weber juga menyatakan adanya beberapa karakteristik negatif dari birokrasi, diantaranya:
  1. Birokrasi cenderung memonopoli informasi sehingga pihak luar tidak dapat mengetahui atas dasar apa sebuah keputusan diambil. Salah satunya adalah konsep ’rahasia jabatan’, bagaimana seseorang bisa menduduki jabatan sebagai kepala bagian atau dinas tidak pernah diungkapkan secara jelas oleh kepala instansi atau birokrasi.
  2. Apabila sudah terlembaga, birokrasi merupakan salah satu struktur sosial yang paling sukar dihancurkan. Bagaimana mungkin bisa mengelola sebuah negara tanpa sistem birokrasi yang baik. Birokrasi memberikan tenaga yang terspesialisasi pada bidangnya. Ada sebuah pola administrasi yang konsisten dalam birokrasi, siapa saja pegawainya bisa diganti namun pola administrasi yang konsisten tersebut akan sulit untuk dihancurkan.
  3. Birokrasi yang sudah sangat mapan cenderung bersifat mendua terhadap demokrasi. Di satu sisi prinsip-prinsip persamaan dihadapan hukum menjadi dasar terhadap setiap bentuk kegiatan birokrasi, namun disisi lain birokrasi cenderung tidak tanggap terhadap pendapat umum.
Konsep birokrasi ideal yang disampaikan Weber adalah sebuah konsep yang sebenarnya sangat bagus apabila dijalankan dengan baik. Namun dibanyak negara konsep birokrasi itu tidak dijalankan dengan semestinya. Banyak pihak mengakui selama tahun 1930-an hingga 1960-an birokrasi memainkan peranan penting dalam pembangunan yang ada di Indonesia. Namun seiring dengan menguatnya birokrasi yang ada di Indonesia, muncul berbagai efek negatif dari birokrasi yang ada tersebut, diantaranya birokrasi menjadi sulit sekali diteembus, sentralistis, top down, dan memiliki hierarki yang sangat panjang.
Birokrasi dipandang sebagai sumber kelambanan bahkan terlalu bertele-tele, terlalu menghabiskan banyak waktu dan biaya dan juga mematikan kreativitas. Dari sisi ekonomi, birokrasi dipandang sebagai penyebab distorsi ekonomi dikarenakan mengganggu mekanisme pasar dan pada akhirnya birokrasi justru menyebabkan inefisiensi organisasi.
Menurut Robbin birokrasi Indonesia juga merefleksikan beberapa aspek budaya masyarakat seperti:
  1. Penghormatan diberikan kepada orang yang lebih tua, merupakan sifat sebagian besar budaya tradisional, dampaknya adalah adanya budaya ewuh pakewuh;
  2. cara komunikasi sering menggunakan bahasa lisan, baru kemudian dikukuhkan dalam surat keputusan;
  3. birokrasi masih terisolasi dari sektor masyarakat lain, sehingga cenderung bersifat pasif dan lamban dalam pengambilan keputusan.
bureaucrat says
Kondisi lain yang tampak dalam kehidupan birokrasi di Indonesia adalah pemanfaatan pengaruh informal dan jaringan berdasarkan latar belakang dan koneksi, sehingga pengaruh kekeluargaan termasuk etnik, memiliki peran sangat penting. Komunikasi satu arah ini menuntut adanya kepatuhan  masyarakat terhadap apa yang diinginkan oleh pemimpin. Birokrasi di Indonesia saat ini masih banyak mewarisi sisa pemerintahan feodal, sehingga sikap menjilat ke atas dan sikap berpura-pura seringkali merupakan jalan keluar perilaku yang rasional. Ketika kekangan kolonial ditiadakan, “irrasionalitas” kebudayaan Jawa berkembang  lagi dan dikenali sebagai kebangkitan kembali patrimonialisme dan neo-tradisionalisme.
Dengan melihat sejarah birokrasi kerajaan, barangkali ada kaitan sistem birokrasi sekarang dengan dahulu. Masih banyak dijumpai praktik pejabat yang seharusnya mempunyai otoritas membuat kebijakan sendiri, akan tetapi tetap tergantung dan menunggu “dawuh” dari atasannya. Selain itu juga banyak dijumpai praktika birokrasi beroriantasi mengabdi kepada kekuasaan, dan bukannya kepada rakyat.
Katanya sih sudah ada yang namanya reformasi birokrasi yang sudah dicetuskan oleh presiden kita pada tahun 2004 yang lalu, namun kalo kita lihat sampai sekarang budaya birokrasi yang tetap bertele-tele, menghabiskan uang dan lainnya tetap saja ada dan belum bisa hilang walaupun sudah hampir 6 tahun yang lalu reformasi birokrasi di galakkan. Bahkan sampai disindir dalam salah satu iklan rokok dengan menggunakan istilah ‘wani piro??’. Namun tetap saja budaya birokrasi yang sudah tertanam sangat dalam sekali disetiap sendi-sendi aparatur pemerintahan sangat susah sekali untuk dihilangkan.
Ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita semua untuk mengubah budaya birokrasi yang sudah tidak relevan lagi terlebih lagi dalam era globalisasi seperti saat ini. Yuk berusaha untuk menyadarkan orang-orang yang belum sadar itu bagaimana sih konsep birokrasi yang benar dan bagaimananya menjadi pelayan buat rakyat……

Kamis, 31 Maret 2011

hei KAMU......

hey kamu………

terima kasih banget ya……
q ga tau kenapa kamu suka banget ya nyampurin urusan orang…..
apa dengan mencampuri urusan orang kamu mendapatkan kepuasan tersendiri???
atau ini memang caramu untuk mendapatkan perhatian dari orang lain???
kalo emang begitu kamu patut untuk dikasihani, karena untuk bisa mendapatkan perhatian orang lain kamu melakukan hal yang seperti itu. mungkin selama ini sudah tidak ada lagi orang yang mengasihimu, karena sikapmu sendiri. jadi kamu berbuat apa saja untuk bisa mendapatkan perhatian orang. bukannya sok menggurui, tapi coba deh dilihat lagi, mulai dari dulu kamu ga ada temen deket bahkan cenderung untuk dijauhi ma temen temenmu sendiri.
tapi ya aq ucapin terima kasih buat apa yang telah kamu buat……
apapun itu pasti akan ada balasannya…….